Zainul Abidin
Research Assosiate-The Reform Initiatives (TRI)
Malam itu saya tidak sedang mencari berita, hanya rebahan sambil membuka Instagram yang mungkin seperti jutaan orang lain yang mengisi setengah jam sebelum tidur dengan cara yang sama. Seorang influencer baru saja mengunggah video pendek tentang kebijakan pemerintah yang menurutnya keliru, disampaikan dengan nada yang biasa saja dan tidak provokatif, lalu saya menggeser ke kolom komentar seperti kebiasaan buruk yang sudah lama tidak bisa saya hentikan. Ratusan komentar sudah menumpuk dalam hitungan menit, semuanya berisi serangan atas orangnya, bukan tanggapan atas argumennya. Motifnya dipertanyakan, karakternya dibongkar, ada yang menyebutnya dibayar asing, dan bahkan ada yang memintanya pindah negara saja. Yang membuat saya bertahan membaca dan memperhatikan bukan kekerasannya, melainkan kemiripannya yang ganjil, pilihan kata yang berulang dan struktur kalimat yang hampir identik satu sama lain, seperti seseorang menulis satu komentar lalu menekan tombol salin sebanyak dua ratus kali.
Selengkapnya: